Minggu, 24 April 2011

Primitifnya Pasukan Salib

Perang Salib merupakan salah satu episode sejarah yang banyak diminati kaum sejarawan dunia. Berbagai kisah dan fakta tentangnya kian ditelusuri kian menarik perhatian. Salah satu peneliti yang sangat serius dan intens menelusuri fakta-fakta seputar Perang Salib ini adalah Profesor Carole Hillenbrand. Guru Besar Studi Islam dan Bahasa Arab di Universitas Edinburgh, Skotlandia, ini telah menghasilkan sebuah karya tulis yang cukup fenomenal, berjudul “The Crusade: Islamic Perspectives” (Edinburgh, 1999). Buku yang tingkat ketebalannya nyaris mencapai seribu halaman ini mendapat penghargaan The King Faisal International Prize for Islamic Studies.
Yang menarik, beda dengan telusuran sejenis tentang Perang Salib, dengan jujur peneliti ini memuat juga fragmen-fragmen tentang tingkah laku para ksatria salib, kaum Frank, semasa mereka menduduki tanah suci Yerusalem yang benar-benar primitif dan bisa membuat kita geleng-geleng kepala saking herannya. Banyak yang dipaparkan dalam buku yang telah diindonesiakan dengan judul “Perang Salib, Sudut Pandang Islam” (2005) tersebut, namun karena keterbatasan halaman, sebagian kecil saja yang akan dimuat dalam artikel berseri ini.
Kesaksian Ibu Jubayr
Ibnu Jubayrs merupakan seorang pengelana asli Spanyol yang terbiasa menjalin kontak dengan kaum salib di Andalusia. Ketika Godfrey de Bouillon memimpin pasukan Salib gelombang pertama ke Yerusalem dan berhasil mendudukinya pada tahun 1099, sejumlah kota dijadikan kantung-kantung konsentrasi pasukan Salib di antaranya Acre.
Dalam perjalanannya melalui Tanah Suci Yerusalem, Ibnu Jubayr menjumpai kebiasaan-kebiasaan orang-orang Salib ini, termasuk ksatrianya, yang kala itu lazim disebut sebagai orang Frank, yang jauh dari kesan beradab sehingga menimbulkan kecaman, keheranan, dan sekaligus menjadi bahan olok-olok kaum Muslim terhadap mereka.
Acre merupakan salah satu kota pelabuhan utama menuju Yerusalem. Hampir semua pasukan Salib yang berangkat dari Eropa utara ke Yerusalem melalui laut bisa dipastikan mendarat di kota ini. Ibnu Jubayr melukiskan, “Setelah orang-orang Frank datang dan tinggal di kota pelabuhan ini, kota yang tadinya indah menjadi kotor dan berbau busuk. Penuh sampah dan kotoran. Mereka (orang-orang Frank) ini membuang kotoran di jalan-jalan dan di sembarang tempat, sehingga jalan-jalan penuh dengan kotoran manusia. Tak heran jika surat pertama yang dilayangkan pimpinan pasukan Salib kepada induk pasukannya yang masih berada di Eropa adalah permintaan dikirimkan sepatu dalam jumlah besar, karena jalan-jalan penuh dengan kotoran manusia.”
Bukan itu saja, yang lebih menggelikan, kotoran manusia ternyata juga secara ‘rahasia’ diolah menjadi bagian dari ritual suci gereja-gereja sekitar Yerusalem, bahkan diperjual belikan dengan harga yang sangat mahal melebihi emas.
Dalam sastra populer, The Tale of ‘Umar ibn Nu’man yang dimuat dalam Alf Laylah wa Laylah, yang mengungkapkan pandangan kaum Muslimin terhadap orang-orang Salib semasa pendudukan di Yerusalem dan sekitarnya, diungkapkan:
“Saya ceritakan padamu sesuatu tentang pedupaan agung dari kotoran uskup. Ketika Uskup Agung Kristen di Konstantinopel memberi isyarat, para pendeta segera mengumpulkannya dalam sehelai sutera dan menjemurnya. Mereka kemudian mencampurkannya dengan minyak misik, damar, dan kapur barus, dan, ketika telah cukup kering, mereka membuatnya menjadi bubuk dan memasukkannya ke dalam kotak-kotak kecil keemasan. Kotak-kotak ini kemudian dikirimkan kepada semua raja dan gereja Kristen, dan bubuk tersebut digunakan sebagai pedupaan paling suci untuk semua penyusian Kristen pada setiap kesempatan yang khidmat, untuk memberkati mempelai wanita, untuk membuat wangi bayi, dan untuk memberkati para pendeta saat pentahbisan.
Karena kotoran asli dari uskup itu hampir tidak mencukupi untuk 10 wilayah, sangat kurang untuk semua wilayah-wilayah Kristen, para pendeta biasanya memalsukan bubuk tersebut dengan mencampurkan bahan-bahan yang ‘kurang suci’ ke dalamnya, kalau bisa dikatakan begitu, yaitu kotoran dari uskup yang lebih rendah tingkatannya, bahkan kotoran-kotoran para pendeta itu sendiri.
Penipuan ini sulit diketahui. Orang-orang Yunani menjijikkan ini menghargai bubuk tersebut untuk kebaikan-kebaikan yang lain: mereka menggunakannya sebagai obat sakit mata dan sebagai obat sakit perut dan usus. Namun, hanya para raja dan ratu dan orang-orang yang sangat kaya yang mampu memperoleh pengobatan ini, karena lantaran persediaan bahannya yang sangat terbatas, bubuk seberat satu dirham biasa dijual seharga seribu dinar emas. Harganya sangat mahal memang.”
Diketahui pula jika orang-orang Frank ini jarang sekali mandi dan membersihkan tubuhnya. Di negeri asalnya, mereka biasa membersihkan tubuh hanya sekali dua kali selama setahun dan mengenakan baju yang itu-itu saja tanpa pernah mencucinya hingga baju tersebut koyak karena tua
Selain kesaksian seorang pengelana Muslim dari Andalusia bernama Ibnu Jubayr, kisah-kisah mengenai kelakuan para ksatria pasukan Salib ketika berada di wilayah pendudukan Yerusalem dan sekitarnya, juga dicatat oleh Usamah ibn Munqidz. Siapa Usamah?
Profesor Carole Hillenbrand dalam The Crusade; Islamic Perpective (1999) menulis: “Usamah adalah seorang bangsawan Arab dengan hubungan kekerabatan yang membanggakan. Lahir pada 488 H/1095 M, tahun ketika Paus Urbanus II menyeru umat Kristen untuk mengangkat Salib menuju Tanah Suci untuk menyelamatkan dari orang kafir. Usamah wafat pada 584 H/1188 M, tak lama setelah Saladin (Salahuddin al-Ayyubi) merebut kembali Yerusalem untuk umat Islam. Usamah mengenal kaum Frank sejak masa kecil di rumahnya di puri Syayzar yang terletak di tepi Sungai Orontez di utara Suriah.
Ia mulai memerangi kaum Frank ketika remaja dan kemudian mengenal mereka secara lebih dekat sepanjang sisa masa hidupnya yang penting, dalam masa damai dan perang. Karena kedudukan sosial dan pendidikannya yang tinggi, Usamah dihormati oleh kaum Frank. Bahkan Usamah berteman dengan ksatria kaum Frank dan dikirimkan dalam misi diplomatik ke kerajaan tentara Salib di Yerusalem.”
Usamah menyusun sebuah buku berjudul ‘Memoirs’ yang menjadi salah satu acuan utama para peneliti tentang pandangan kaum Muslim terhadap tentara Salib. Salah satu kisah laporan pandangan mata yang ditulis Usamah, yang paling banyak dikutip para peneliti sejarah, adalah tentang apa yang dialami Salim—salah satu pelayannya dari Maa’rat al-Nu’man—yang ketika itu tengah bekerja di sebuah tempat pemandian umum milik ayah Usamah. Lokasi pemandian ini berada di Timur Dekat, dan termasuk tempat pemandian yang mewah karena pelanggannya adalah para ksatria kaum Frank. Dalam laporannya Salim menulis:
“Saya bekerja di pemandian di al-Ma’arrat untuk nafkah saya. Suatu hari datang seorang ksatria kaum Frank ke tempat pemandian itu. Ksatria kaum Frank itu tidak suka jika seseorang memasang penutup yang mengelilingi pinggang saat berada di pemandian. Maka ksatria kaum Frank itu mengulurkan tangannya  dan menarik lepas penutup yang ada di pinggang saya dan melemparkannya jauh-jauh. Dia menatap saya dan melihat bahwa saya baru saja mencukur bulu kemaluan saya. Kemudian dia berseru, “Salim!” Ketika saya mendekatinya dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh bulu kemaluan saya dan berkata, “Salim, Bagus! Demi kebenaran agamaku, lakukan hal yang sama padaku.”
Usai berkata, dia bersandar dan saya melihat rambut kemaluannya sama seperti janggutnya. Saya kemudian mencukurnya. Lalu dia meraba bagian tersebut. Begitu mengetahui bahwa bagian itu telah bersih, dia berkata, “Salim, demi kebenaran agamaku, lakukan juga pada nyonya (al-dama, merujuk pada isteri).
Ksatria itu kemudian berkata kepada pelayannya, “Beritahu nyonya agar datang ke sini.” Pelayan itu pergi lalu kembali bersama nyonya dan membawanya masuk ke dalam pemandian. Di nyonya juga berbaring. Ksatria itu mengulangi, “Lakukan seperti yang telah kau lakukan padaku.” Maka saya kemudian mencukur semua bulu kemaluannya sementara suaminya duduk sambil memperhatikan. Akhirnya dia mengucapkan terima kasih dan membayar pelayanan yang telah saya berikan.”   
Tentang kisah ini, Hillenbrand menyampaikan pandangannya, “Di dalam masyarakat yang kaum prianya melindungi kaum wanita, dan yang kaum wanitana dilarang memperlihatkan wajah mereka tanpa tutup kecuali kepada sejumlah kerabat pria tertentu, kelakuan ksatria Salib tersebut dengan isterinya, …memperlihatkan titik kesalahan dan kebejatan kaum Frank dan tidak adanya rasa cemburu yang memang “pantas” serta memperkuat nilai-nilai masyarakat Muslim.”
Yang dikisahkan oleh Usamah adalah sikap seorang ksatria kaum Frank, salah satu pemimpin pasukan tentara Salib, yang seperti itu. Masyarakat Muslim akan berpikir, jika seorang tokoh masyarakatnya yang konon berpendidikan saja seperti itu, maka apatah lagi orang-orang yang strata sosialnya berada di bawahnya.
Buas, Jorok, dan Seks Bebas
Dari beberapa literatur yang ada, kaum Muslim menggambarkan sifat dan tabiat orang-orang Frank, termasuk para ksatrianya, adalah jorok (tidak mengerti kebersihan, baik kebersihan pribadi maupun lingkungan), buas, dan sangat permisif terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Walau tentara Salib ini menyatakan diri berperang atas dasar agama dan dilepas oleh Paus Urbanus yang menjadi wakil tuhan mereka di bumi, namun apa yang terjadi di lapangan ternyata mengkhianati dasar-dasar keyakinan mereka sendiri. Untuk memenuhi hasrat seksualnya, mereka mendatangkan sejumlah wanita muda Eropa yang bertindak bagaikan pelacur. Selain itu, ada banyak kaum Muslimah yang juga menjadi korban pemerkosaan.
Bahkan mereka ini tak segan-segan memakan bangkai kaum Muslim yang menjadi tawanannya seperti yang terjadi saat tentara Salib mengepung Marr’at al-Nu’man sebelum masuk ke Yerusalem di awal perang Salib.
Walau demikian, perang Salib yang berjalan lama ini, agaknya juga menyadarkan orang-orang Eropa jika kaum Muslimin dan peradabannya ternyata tidak rendah seperti yang awalnya mereka sangka. Pada awalnya, orang Eropa menyebut orang Muslim sebagai Barbarian. Namun akibat kontak yang intensif dari perang Salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah kaum mereka, bukan Muslim. Banyak dari para sarjana mereka mengakui jika kaum Muslimin tinggi peradabannya dan mereka harus banyak belajar dari kaum yang mengesakan tuhan ini. Mulailah terjadi transfer berbagai bidang ilmu, dari Jazirah Arabia ke daratan Eropa. Sayangnya, kondisi sekarang telah berbalik seratus delapan puluh derajat

Yahudi di Sekeliling Adolf Hitler


Sejarah resmi Perang Dunia II menyebutkan jika Adolf Hitler dengan Nazi-nya merupakan musuh nomor wahid kaum Yahudi Eropa. Versi ini sampai sekarang masih saja diyakini banyak kalangan. Padahal, fakta yang sesungguhnya menyatakan jika Adolf Hitler sendiri dan banyak elit Nazi dan juga pasukan komando Nazi, Waffen-SS, ternyata juga berdarah Yahudi. Siapa saja mereka? Inilah sedikit di antaranya:

Heinrich Himmler
Jenderal utama pemimpin pasukan elit Waffen-SS ini memiliki seorang nenek Yahudi yang bekerja sebagai pedagang buah di Italia. Atas dukungan Hitler, Himmler menugaskan Heydrich untuk mengganti identitas keyahudian neneknya ini. Himmler juga diketahui membentuk satuan-satuan Waffen-SS yang terdiri dari tentara-tentara Nazi berdarah Yahudi yang lebih kejam di dalam peperangan.

Joseph Göbbels
Orator ulung dan Menteri Propaganda Nazi yang terkenal dengan konsep perang urat syaraf dalam Perang Dunia II ini terlahir dari keluarga Yahudi Spanyol. Selama bersekolah, Joseph dijuluki ‘Rabi”. Di dalam karya-karyanya, Gobbels dengan terus terang menyatakan hanya menghormati pendapat-pendapat para profesor Yahudi. Hingga perang berakhir, Gobbels tinggal di rumah ibu mertuanya, Friedlander, yang berdarah Yahudi. Sejarawan David Irving memiliki silsilah keyahudian Gobbels.

Hermann Göring
Jika Himmler komandan pasukan elit Waffen-SS, maka Goring adalah komandan Lutwaffe, angkatan udara Nazi. Ibu kandung dan isteri Goring sepenuhnya berdarah Yahudi.

Adolf Eichmann
Lahir di Haifa, Palestina, dari kedua orangtua yang sepenuhnya Yahudi. Oleh orangtuanya, Eichmann melakukan imigrasi ke Austria dan tinggal di Linz. Eichmann bisa berbahasa Ibrani, Jerman, dan Yiddish (campuran Ibrani-Jerman). Atas upaya Heydrich, dibuat surat sertifikat kelahiran palsu atas nama Adolf Eichmann dengan kota kelahiran di Solingen. Adolf Eichmann ini ditugasi Hitler untuk mengorganisir pemindahan orang-orang Yahudi dari Jerman dan Eropa ke Tanah Palestina.

Alfred Rosenberg
Rosenberg berdarah Yahudi Swedia. Orang ini merupakan ideolog dan tokoh filsafat Partai Nazi. Rosenberg diketahui mengembangkan ideolog dan filosofi Partai Nazi berdasarkan Talmud dan ajaran paganisme Nordik.
Joachim Von Ribbentrop
Tokoh Nazi yang dipercaya Hitler menjabat Menteri Luar Negeri Nazi ini juga berdarah Yahudi. Bahkan Von Ribbentrop ini merupakan sahabat karib dari Chaim Weizmann, Presiden Zionis Israel pertama.
Hans Frank
Ayah dari Hans Frank adalah pengacara berdarah Yahudi di Galicia, Polandia, yang secara resmi mengaku memeluk agama Katholik. Hans Frank yang merupakan pengacara pribadi Hitler, diangkat menjadi Menteri Kehakiman Nazi di Bavaria. Setelah Polandia diduduki Jerman, Hans Frank diangkat menjadi Gubernur Jenderal.
Robert Ley
Menurut penelusuran intensif dari Gerald Kessler[1], nenek moyang dari pimpinan Deutsche Arbeiter Front (Front Pekerja Jerman, semacam serikat buruh) ini semula bernama “Levi”. Ini merupakan nama salah satu suku Israel.
Reinhard Heydrich
Kedua orangtua Heydrich adalah Yahudi. Ayahnya, Heydrich Bruno, adalah seorang pemusik. Atas perintah Hitler, Heydrich banyak membantu memalsukan sertifikat-sertifikat kelahiran sejumlah elit Nazi yang berdarah Yahudi, agar keyahudian mereka bisa ditutupi.
Rudolf Hess
Dilahirkan dari seorang ibu berdarah Yahudi Inggris, Hess ditunjuk sebagai Deputi Kanselir Hitler. Hess yang dikalangan Homoseksual Munich dikenal dengan sebutan ‘Fraulein Anna’ (Nona Anna) ini juga pernah bertugas sebagai asisten Profesor Karl Ernst Haushofer, guru geopolitik Hitler yang juga Yahudi tulen.
Wilhelm Canaris
Laksamana Canaris dipercaya Hitler memegang jabatan strategis sebagai Kepala Intelijen Abwehr. Keturunan Yahudi Yunani inilah yang mengusulkan agar orang-orang Yahudi Jerman diberi identitas bintang david kuning di pakaiannya.
Selain nama-nama di atas, masih banyak elit Nazi yang berdarah Yahudi. Di antaranya adalah: pakar fisika Philip von Lenard, Theodor Lewald (mantan Sekretaris Negara Nazi), Erhard Milch (Direktur Lufthansa dan kepercayaan Hermann Goring), Ernst Heinrich Henkel (pemilik pabrik pesawat terbang Henkel), Eva Braun (isteri Hitler), Heinrich Hoffman (Fotografer pribadi Hitler), Theodor Morrel (dokter pribadi Hitler), dan lain-lain. Ini adalah sebagian kecil dari elit Nazi yang berdarah Yahudi.

Skenario Film Hanung Ternyata Ditulis Oleh Fritjof Schuon Tahun 1932



“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan… Aku pindah agama bukan berarti aku mengkhianati Tuhan.”
Kata-kata itu betul-betul saya garis bawahi, satu bulan sebelum Film ? garapan hanung launching. Entah kebetulan atau tidak, kalimat dalalm cuplikan film ? tersebut ternyata persis dengan bunyi surat Fritjof Schuon kepada Albert Ossey, tahun 1932. Coba anda bandingkan:
“Have I ever said that the path to God passes through Mecca? If there were any essential difference between a path that passes through Benaris and one that passes through Mecca, how could you think that I would wish to come to God “through Mecca,” and thereby betray Christ and the Vedanta? In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome. Is the Nirvana of Mecca different from the Nirvana of Benares?”
Yang artinya kira-kira begini: Apakah aku pernah bilang bahwa jalan menuju Tuhan hanya bisa dilalui lewat Mekkah? Jika disana ada perbedaan mendasar antara jalan yang melewati Benaris (India) dan satu yang melalui Mekkah, bagaimana mungkin Anda berpikir bahwa aku ingin datang kepada Tuhan "melalui Mekah," dan dengan cara demikian mengkhianati Kristus dan Vedanta? Mengapa jalan spiritual tertinggi melewati Mekah atau Benares atau Lhasa atau Jerussalem atau Roma? Apakah nirvana dari Mekah berbeda dengan nirvana dari Benares?
Bentuk-bentuk pertanyaan menyentil itulah yang dipakai Schuon untuk menyadarkan orang-orang agar tidak mengklaim bahwa agamanya adalah paling benar. Fritjof Schuon adalah seorang kelahiran Swiss yang mencoba memetakan jalan berbeda untuk menuju satu Tuhan tanpa harus mengkhianati Tuhan itu sendiri.
Pergulatannya mencari spiritualitas mengantarkannya bertemu Rene Guénon (baca: Gino) salah seorang freemason kenamaan dari Perancis. Sejak berusia 16 tahun, Schuon telah membaca karya Guénon, Orient et Occident. Kagum dengan pemikiran Guénon, Schuon saling berkirim surat dengan Guénon selama 20 tahun.
Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya, untuk pertama kalinya Schuon bertemu dengan Guénon di Mesir pada tahun 1938. Schuon akhirnya memeluk Islam dengan nama Isa Nuruddin Ahmad al-Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.
Bagi Schuon, agama memang berbeda pada tiap-tiap simbolnya. Orang Islam mendirikan shalat, umat Kristen berdoa di gereja, dan Hindu beribadah demi Nirwana. Namun, bagi Schuon, pada substansinya masing-masing agama merujuk pada satu Tuhan yang sama.
Kalimat inilah yang kemudian ia namakan menjadi religio perennis (agama abadi) dan diterjemahkan Nurcholish Madjid empat puluh tahun kemudian dengan nama inklusifisme. Apa yang dimaksud agama abadi tidak lain adalah bahwa ada kebenaran abadi yang dibawa masing-masing agama hingga saat ini.
Menariknya kalimat “In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome” itu pula yang menggema di pikiran Komarudin Hidayat hingga kemudian ia berujar:
“Implikasi praktisnya dalam beragama adalah tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai satu-satunya yang benar secara otomatis adalah jaminan memperoleh keselamatan. Demikian sebaliknya, tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai sesat dan kafir sekalipun tidak secara otomatis memperoleh neraka dan kesengsaraan di akhirat kelak”
Perenialisme berbeda dengan New Age, jika New Age meminta manusia untuk tidak mementingkan lagi agama, perenialisme masih butuh agama. Karena agama adalah kunci ekspresi spiritualitas seseorang, walau tidak lama kemudian perenialisme menyatakan tidak semua agama benar, sekaligus tidak semua agama salah. Yang salah jika sebuah agama tertentu mengklaim diri paling jitu. Ini problem, bagi pengikut “agama” Schuon.
Pemikiran Schuon tentang titik temu agama-agama pada level esoteris secara konseptual masih bermasalah. Sebab pada tingkat esoteris pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.
Schuon nampaknya didorong oleh suatu motif agar antar agama-agama yang ada di dunia tidak terjadi pertentangan. Tapi teorinya cenderung membenarkan semua agama. Padahal Islam adalah agama yang justru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada agama-agama sebelumnya.
Rupanya ini pula yang dimaksud Hanung. Filmnya berjudul ?, walau memang rilis tahun 2011, namun sejatinya skenario itu sudah ditulis oleh Schuon jauh hari. Bisa dikatakan Hanung hanya mengkopinya ke layar kaca lewat tokoh Rika, Surya, dan Hendra.
Yang menjadi pertanyaan sekarang sebenarnya sederhana: apakah Hanung Bramantyo adalah juga seorang freemason sama dengan Schuon? Semoga saja tidak. (pz)

Surat-Surat Pluralisme Kartini

Oleh Artawijaya

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?
Oleh Artawijaya*
Lewat sebuah iklan di Majalah De Hollandse Lelie, sebuah majalah wanita yang terkenal pada saat itu dan terbit di Belanda, Raden Ajeng Kartini (1879-1904) berkenalan dengan Estella H Zeehandelaar, seorang perempuan Yahudi pejuang feminisme radikal yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Estella- atau yang disebut oleh Kartini dalam surat-suratnya dengan Stella, adalah anak seorang dokter dari keluarga Yahudi. Stella dikenal sebagai pegiat feminisme, sosialisme, aktivis penyayang binatang, dan seorang vegetarian layaknya penganut Theosofi yang cukup berpengaruh saat itu. Stella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP), partai pengusung sosialis-demokrat di negeri Belanda yang ketika itu memperjuangkan sosialisme dan humanisme, termasuk ide-ide tentang kesetaraan gender dan pluralisme.
Perkenalan Kartini dengan Stella berlangsung lewat korespondensi surat-menyurat. Surat pertama ditulis Kartini pada 25 Mei 1899, ketika usianya menginjak 20 tahun. Tak sulit bagi Kartini untuk menjalin hubungan dengan orang-orang Belanda, mengingat sebagai anak priyai Jawa, ia mempunyai akses yang mudah untuk melakukan itu. Teman-temannya semasa di Europese Lagere School (ELS) kebanyakan adalah anak-anak Eropa, khususnya Belanda. Paman dan saudara-saudaranya juga dekat dengan elit Belanda.
Surat menyurat Kartini dengan Stella banyak membicarakan mengenai kebatinan dan keyakinan agama. Dalam surat-suratnya, Stella juga banyak memperkenalkan Kartini dengan berbagai paham modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Mengenai persahabatannya dengan Kartini, Stella pernah menulis surat kepada Ny. Nellie van Koll, tertanggal 28 Juni 1902, yang mengatakan, ”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pemikiran yang sama tentang Tuhan...”
Dalam suratnya kepada H.H van Kol, anggota Freemason yang juga suami dari Nellie van Kol, tertanggal 10 Agustus 1902, Kartini juga mengatakan, ”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa. Tuhannya, Tuhan kita semua.” Sedangkan kepada Stella, dalam surat tertanggal 6 Nopember 1899, Kartini mengatakan, ”Ya Tuhanku, adakalnya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, sebenarnya yang harus mempersatukan semua hamba Allah...orang yang seibu sebapak berlawanan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai berai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, berdirilah tembok yang membatasi hati yang berkasih-kasihan. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati...”
Kumpulan surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar bisa dilihat dalam korespondensi Kartini periode 1899-1903, yang kemudian dikumpulkan oleh Dr. Joost Cote dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, ”Aku Mau...Femininisme dan Nasionalisme: Surat-Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903”. Buku ini diterbitkan pada 1979 untuk mengenang seabad wafatnya Kartini.
Sosok lain yang menjadi sahabat Kartini adalah Nyonya Rosa Manuela Abendanon Mandri atau sering disingkat Ny. RM Abendanon Mandri. Perempuan berdarah Yahudi, kelahiran Puerto Rico ini adalah istri kedua dari Jacques Henri Abendanon, Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan di Hindia Belanda. Ny. Abendanon disebut oleh Kartini sebagai orang satu-satunya yang banyak mengetahui kehidupan batinnya.Ny. Abendanon juga banyak mengirimkan buku-buku terutama tentang humanisme, diantaranya buku Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Kartini juga membaca buku De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.
Surat-surat Kartini dengan RM Abendanon kemudian diterbitkan pada 1911 oleh Kartini Fonds, sebuah lembaga yang dibentuk oleh seorang humanis yang juga terlibat dari Gerakan Politik Etis, Conrad Theodore van Daventer. Kumpulan surat tersebut kemudian diberi judul “Door Duisternis tot Licht”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sastrawan anggota Theosofi, Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Majalah Tempo, 12 Oktober 1987, mengulas mengenai terbitnya buku yang berisi surat menyurat Kartini dengan Ny. RM Abendanon dan J.H Abendanon. Majalah Tempo menulis, tak semua surat-surat Kartini ditampilkan dalam buku tersebut. Stella, yang diduga memiliki sedikitnya 20 surat Kartini, hanya meminjamkan 14 pucuk. Annie Glaser, sosok yang disebut dalam surat Kartini, yang menceritakan spiritualisme gaib, bahkan sama sekali menolak meminjamkan surat-srat Kartini yang ada di tangannya untuk dipublikasikan.
Sejumlah surat lainnya, diterbitkan namun sudah diedit dan dipotong oleh Ny. Abendanon. Inilah yang menjadi pertanyaan sebagaimana diajukan oleh Dr.Th Sumarna dalam bukunya “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini”, entah dengan alasan apa surat-surat Kartini yang berisi yang berisi pengalamannya dalam dunia okultislme dan mistisisme “disensor” oleh Abendanon? Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Cerita mengenai okultisme sempat disinggung oleh Kartini dalam suratnya, 15 Juli 1902. Kartini menulis, ”Mengenai spiritisme yang dianutnya (Tuan Van Kol, pen) dengan setia, sudah diceritakan Annie kepada Nyonya, bukan? Saya senang sekali bahwa diperkenalkan dengan kepercayaan itu, tidak untuk memanggil rohnya, tetapi mengenai indahnya kepercayaan itu. Ajaran itu mendamaikan kami banyak hal, yang tampaknya ketidakadilan berat dan memberikan hiburan, bahwa kegagalan kami sekarang dalah penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya...kami sungguh-sungguh tercengang. Tuan Van Kol mengatakan bahwa dia dan istrinya melalui spiritisme memperoleh banyak nasihat dari dunia arwah.”
Tuan dan Nyonya Abendanon adalah sahabat karib Snouck Hurgronje. Atas saran Snouck-lah, Tuan Abendanon, yang juga berdarah Yahudi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan di Hindia Belanda, diminta untuk mendekati Kartini bersaudara.Snouck yang ketika itu menjabat sebagai Penasehat Pemerintahan Hindia Belanda, meminta Abendanon agar menaruh perhatian lebih kepada Kartini. Tujuannya adalah, merekrut sebanyak mungkin anak-anak priayai agar tercapai proses asimiliasi antara kebudayaan Barat dan pribumi.
Kepada Ny. Abendanon, Kartini pernah menitip pesan agar menanyakan hal yang berkaitan dengan hukum Islam. Kartini menganggap Snouck sebagai orang yang paham Islam, padahal sesungguhnya seorang orientalis yang pura-pura mendalami Islam. Kartini menulis, ”Apabila bila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr Snouck Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut:Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. Bagaimana undang-undang agama mereka? Suatu hal yang bagus sekali, saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu...”
Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H.H Van Kol (anggota Freemason), Ny Nellie Van Kol, Ny M. C.E Ovink Soer, E.C Abendanon (anak J.H Abendanon), dan Dr N Adriani. Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel dan spiritualisme, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.
Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia memiliki cerita lain. Ridwan mengatakan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu. Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen.Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.
Tulisan ini bisa dibilang adalah pengantar bagi mereka yang ingin meneliti secara serius dan mendalam tentang bagaimana pemikiran dan paham keagaaman Kartini, dan sejauh mana para keturunan Yahudi tersebut mempengaruhi pemikirannya? Dalam buku ”Gerakan Theosofi di Nusantara”, penulis menyimpulkan bahwa corak pemikiran dan keagamaan Kartini sangat kental dengan muatan Theosofi. Itu tercermin dari surat-suratnya dan pertemanannya dengan para Yahudi Belanda. Namun, bisa saja data yang tak terungkap lebih banyak, mengingat surat-menyurat Kartini tak semuanya diterbitkan, dan sebagian entah kemana...

R.A. Kartini dan Para Yahudi Belanda


Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?
Oleh Artawijaya*
Lewat sebuah iklan di Majalah De Hollandse Lelie, sebuah majalah wanita yang terkenal pada saat itu dan terbit di Belanda, Raden Ajeng Kartini (1879-1904) berkenalan dengan Estella H Zeehandelaar, seorang perempuan Yahudi pejuang feminisme radikal yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Estella- atau yang disebut oleh Kartini dalam surat-suratnya dengan Stella, adalah anak seorang dokter dari keluarga Yahudi. Stella dikenal sebagai pegiat feminisme, sosialisme, aktivis penyayang binatang, dan seorang vegetarian layaknya penganut Theosofi yang cukup berpengaruh saat itu. Stella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP), partai pengusung sosialis-demokrat di negeri Belanda yang ketika itu memperjuangkan sosialisme dan humanisme, termasuk ide-ide tentang kesetaraan gender dan pluralisme.
Perkenalan Kartini dengan Stella berlangsung lewat korespondensi surat-menyurat. Surat pertama ditulis Kartini pada 25 Mei 1899, ketika usianya menginjak 20 tahun. Tak sulit bagi Kartini untuk menjalin hubungan dengan orang-orang Belanda, mengingat sebagai anak priyai Jawa, ia mempunyai akses yang mudah untuk melakukan itu. Teman-temannya semasa di Europese Lagere School (ELS) kebanyakan adalah anak-anak Eropa, khususnya Belanda. Paman dan saudara-saudaranya juga dekat dengan elit Belanda.
Surat menyurat Kartini dengan Stella banyak membicarakan mengenai kebatinan dan keyakinan agama. Dalam surat-suratnya, Stella juga banyak memperkenalkan Kartini dengan berbagai paham modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Mengenai persahabatannya dengan Kartini, Stella pernah menulis surat kepada Ny. Nellie van Koll, tertanggal 28 Juni 1902, yang mengatakan, ”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pemikiran yang sama tentang Tuhan...”
Dalam suratnya kepada H.H van Kol, anggota Freemason yang juga suami dari Nellie van Kol, tertanggal 10 Agustus 1902, Kartini juga mengatakan, ”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa. Tuhannya, Tuhan kita semua.” Sedangkan kepada Stella, dalam surat tertanggal 6 Nopember 1899, Kartini mengatakan, ”Ya Tuhanku, adakalnya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, sebenarnya yang harus mempersatukan semua hamba Allah...orang yang seibu sebapak berlawanan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai berai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, berdirilah tembok yang membatasi hati yang berkasih-kasihan. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati...”
Kumpulan surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar bisa dilihat dalam korespondensi Kartini periode 1899-1903, yang kemudian dikumpulkan oleh Dr. Joost Cote dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, ”Aku Mau...Femininisme dan Nasionalisme: Surat-Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903”. Buku ini diterbitkan pada 1979 untuk mengenang seabad wafatnya Kartini.
Sosok lain yang menjadi sahabat Kartini adalah Nyonya Rosa Manuela Abendanon Mandri atau sering disingkat Ny. RM Abendanon Mandri. Perempuan berdarah Yahudi, kelahiran Puerto Rico ini adalah istri kedua dari Jacques Henri Abendanon, Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan di Hindia Belanda. Ny. Abendanon disebut oleh Kartini sebagai orang satu-satunya yang banyak mengetahui kehidupan batinnya.Ny. Abendanon juga banyak mengirimkan buku-buku terutama tentang humanisme, diantaranya buku Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Kartini juga membaca buku De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.
Surat-surat Kartini dengan RM Abendanon kemudian diterbitkan pada 1911 oleh Kartini Fonds, sebuah lembaga yang dibentuk oleh seorang humanis yang juga terlibat dari Gerakan Politik Etis, Conrad Theodore van Daventer. Kumpulan surat tersebut kemudian diberi judul “Door Duisternis tot Licht”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sastrawan anggota Theosofi, Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Majalah Tempo, 12 Oktober 1987, mengulas mengenai terbitnya buku yang berisi surat menyurat Kartini dengan Ny. RM Abendanon dan J.H Abendanon. Majalah Tempo menulis, tak semua surat-surat Kartini ditampilkan dalam buku tersebut. Stella, yang diduga memiliki sedikitnya 20 surat Kartini, hanya meminjamkan 14 pucuk. Annie Glaser, sosok yang disebut dalam surat Kartini, yang menceritakan spiritualisme gaib, bahkan sama sekali menolak meminjamkan surat-srat Kartini yang ada di tangannya untuk dipublikasikan.
Sejumlah surat lainnya, diterbitkan namun sudah diedit dan dipotong oleh Ny. Abendanon. Inilah yang menjadi pertanyaan sebagaimana diajukan oleh Dr.Th Sumarna dalam bukunya “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini”, entah dengan alasan apa surat-surat Kartini yang berisi yang berisi pengalamannya dalam dunia okultislme dan mistisisme “disensor” oleh Abendanon? Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Cerita mengenai okultisme sempat disinggung oleh Kartini dalam suratnya, 15 Juli 1902. Kartini menulis, ”Mengenai spiritisme yang dianutnya (Tuan Van Kol, pen) dengan setia, sudah diceritakan Annie kepada Nyonya, bukan? Saya senang sekali bahwa diperkenalkan dengan kepercayaan itu, tidak untuk memanggil rohnya, tetapi mengenai indahnya kepercayaan itu. Ajaran itu mendamaikan kami banyak hal, yang tampaknya ketidakadilan berat dan memberikan hiburan, bahwa kegagalan kami sekarang dalah penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya...kami sungguh-sungguh tercengang. Tuan Van Kol mengatakan bahwa dia dan istrinya melalui spiritisme memperoleh banyak nasihat dari dunia arwah.”
Tuan dan Nyonya Abendanon adalah sahabat karib Snouck Hurgronje. Atas saran Snouck-lah, Tuan Abendanon, yang juga berdarah Yahudi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan di Hindia Belanda, diminta untuk mendekati Kartini bersaudara.Snouck yang ketika itu menjabat sebagai Penasehat Pemerintahan Hindia Belanda, meminta Abendanon agar menaruh perhatian lebih kepada Kartini. Tujuannya adalah, merekrut sebanyak mungkin anak-anak priayai agar tercapai proses asimiliasi antara kebudayaan Barat dan pribumi.
Kepada Ny. Abendanon, Kartini pernah menitip pesan agar menanyakan hal yang berkaitan dengan hukum Islam. Kartini menganggap Snouck sebagai orang yang paham Islam, padahal sesungguhnya seorang orientalis yang pura-pura mendalami Islam. Kartini menulis, ”Apabila bila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr Snouck Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut:Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. Bagaimana undang-undang agama mereka? Suatu hal yang bagus sekali, saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu...”
Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H.H Van Kol (anggota Freemason), Ny Nellie Van Kol, Ny M. C.E Ovink Soer, E.C Abendanon (anak J.H Abendanon), dan Dr N Adriani. Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel dan spiritualisme, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.
Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia memiliki cerita lain. Ridwan mengatakan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu. Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen.Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.
Tulisan ini bisa dibilang adalah pengantar bagi mereka yang ingin meneliti secara serius dan mendalam tentang bagaimana pemikiran dan paham keagaaman Kartini, dan sejauh mana para keturunan Yahudi tersebut mempengaruhi pemikirannya? Dalam buku ”Gerakan Theosofi di Nusantara”, penulis menyimpulkan bahwa corak pemikiran dan keagamaan Kartini sangat kental dengan muatan Theosofi. Itu tercermin dari surat-suratnya dan pertemanannya dengan para Yahudi Belanda. Namun, bisa saja data yang tak terungkap lebih banyak, mengingat surat-menyurat Kartini tak semuanya diterbitkan, dan sebagian entah kemana...
*Penulis buku ”Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara”, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010.

Lihatlah ke Bawah, Jangan Lihat Ke Atas

Manusia (al-insan) merupakan mahluk Allah yang paling sempurna, dan paling banyak menerima karunia-Nya, dibanding dengan yang lainnya. Namun, seringkali manusia lupa mensyukuri semua karunia itu. Padahal, karunia Ilahi yang datang silih berganti tanpa pernah kita syukuri hanya akan menambah kemurkaan Allah semata.
Banyak nikmat Allah telah kita sia-siakan. Dari yang terkecil hingga besar. Bayangkan, seandainya udara yang kita hirup dihargai dengan uang. Berapa banyak uang yang kita keluarkan hanya untuk membeli udara.
Belum lagi air yang setiap hari kita pakai. Alangkah Maha Pemurahnya Allah.
Berjalan dengan kedua kaki, melihat dengan kedua mata, dan bernafas merupakan nikmat yang tidak bisa tidak kita syukuri. Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan penglihatan, pendengaran, dan mata hati, untuk dapat menjaga kualitas syukur kita atas semua pemberian-Nya.
Dalam al-Quran, Allah berfirman;
 ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” [QS: As Sajadah: 9]

Coba kita renungkan tentang susunan anatomi tubuh  yang kompleks, rumitnya saluran darah, jaringan saraf, serta gumpalan otak dan hati, yang terakhir membuat derajat manusia lebih tinggi di antara mahluk Allah yang lain. Andai saja ada kerusakan sedikit di bagian otak kita, jaringan saraf terputus, dan aliran darah terhenti sesaat saja. Apa yang terjadi dalam tubuh kita?
Wujud Manisnya Iman
Kemampuan mensyukuri nikmat adalah salah satu wujud nyata dari manisnya iman. Ungkapan syukur tidak hanya di lisan. Melainkan mengejewantah dalam keseharian kita. Ibadah kian bertambah baik. Hubungan dengan tetangga makin harmonis. Kehidupan rumah tangga tambah berkah. Dan peran sosial kita semakin dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Semua itu merupakan bentuk lain dari cara mensyukuri nikmat Allah Swt.
Tubuh kita merupakan nikmat Allah yang tiada tara. Alam raya dan segala hal yang ada di dalamnya, adalah tanda-tanda kekuasaan dan fasilitas Allah guna memanjakan mahluk-Nya yang bernama manusia. Bentangan bumi yang subur, dan perut bumi yang mengandung banyak karunia Ilahi. Semuanya diserahkan kepada manusia untuk mengelola dan menikmati hasilnya. Bila sudah sedemikian sayangnya Allah pada kita, sanggupkah kita mengingkari-Nya? Allah menegaskan dalam firman-Nya.
 أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ
“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” [QS: Luqman [31]: 20]
Pernah kita merasakan betapa nikmatnya sehat itu. Saat terbaring lemas di rumah sakit, saat makanan-makanan lezat dihidangkan, handai taulan yang datang membesuk, apa yang kita rasakan? Tubuh tak kuasa bergerak, lidah tidak dapat merasakan lezatnya hidangan yang tersedia, dan sapaan hangat handai taulan pun berlalu sedemikian dinginnya.

Merasa rendahkah kita, ketika hanya mampu makan sehari sekali, sedangkan banyak saudara kita yang tidak mampu makan, walau sehari sekali. Fenomena penyakit busung lapar yang sempat diekspos media massa beberapa waktu lalu (dan boleh jadi saat ini masih banyak namun tidak terekspos lantaran banyaknya peristiwa baru yang saling susul menyusul) menghentak kita untuk lebih memacu diri dalam mensyukuri nikmat Allah. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada diri kita dan keluarga? Apa yang bisa kita lakukan.
Hinakah kita ketika fasilitas hidup yang kita terima tidak sama lebih rendah dibanding dengan tetanggga atau saudara kita yang lain. Penghasilan tidak sebanyak kolega kita. Karir tidak melejit secepat  teman-teman seangkatan dengan kita dn bahkan di bawah kita? Demikian dengan suasana kerja tidak senyaman yang kita harapkan. Dapatkah kita mensyukuri semua itu sebagai nikmat.
Bersyukur kita, saat banyak orang yang kehilangan pekerjaan, kesulitan bertahan hidup, dan bekerja dalam penuh ketidakpastian masa depan dan jaminan penghasilan yang memadai. Kita masih bisa bertahan seperti apa yang kita alami kini. Kita masih dikaruniai nikmat sehat dan taat (ibadah).
Kita dianjurkan untuk selalu melihat siapa yang ada di bawah. Jangan dibiasakan mengukur tingkat kesejahteraan dan kemakmuran hidup dengan siapa yang ada di atas kita. Inilah yang dapat mendekatkan diri pada sikap dan perilaku kufur. Tentu yang dimaksudkan ini sebagai bagian rasa syukur, bukan sebagai legitimasi dan sikap kemalasan. Sebab sebagai pribadi Muslim, kita tetap diwajibkan terus berprestasi sampai ke tingkat paling atas dan beramal kebaikan sebanyak-banyaknya.

Pendorong Kekufuran
Sementara arus budaya kufur menggempur kita tiada terkira. Hampir-hampir iman kita terseret dalam arus budaya kufur. Sarana-sarana dan fasilitas kekufuran tersedia dengan porsi yang lebih besar ketimbang sarana untuk bersyukur. Budaya hedonis, konsumtif, dan kontraproduktif terbangun dengan sistematis. Dan ada sarana untuk mengejawantahkan kekufuran secara baik, mulus, tanpa hambatan. Iman yang kita pupuk, dan rasa syukur yang coba ditumbuhkan, serta merta harus berhadapan dengan gelombang besar kekufuran yang sarat kemudharatan.
Kuncup syukur itu harus berdiri tegak. Tetap tegar walaupun dihajar badai kufur nan garang. Kelak kualitas kesyukuran kita akan teruji dan tidak lekang oleh hal yang membuat hambar cita rasa untuk bersyukur. Bukankah iman tumbuh dan berkualitas saat cobaan dan rintangan datang tiada henti. Justru ketika tiada hinaan, cercaan, dan hambatan, iman tumbuh tiada bergelora. Hidup ini tidak berjalan apa adanya. Ada upaya untuk membuatnya stagnan. Karena hambatan dan cobaan tiada kunjung tiba. Atau bahkan kita hindari kedatangannya. Menerima setiap pemberian Allah, betapapun kecilnya, merupakan sikap serta rasa syukur.
Bila kita membiasakan diri dengan menerima ketetapan dan pemberian Allah dengan perasaan cukup (qonaah), niscaya kita akan kaya. Dikayakan oleh Allah SWT.
Hidup kian bermakna saat kita pandai mensyukuri semua yang diberikan Alah pada kita, manusia.
Nikmat dunia adalah ujian. Segala hal yang Allah berikan di dunia ini merupakan sarana untuk menguji siapa yang paling baik perbuatannya di antara kita.
Ilmu yang Allah berikan pada kita, wajib diamalkan dan disebarluaskkan pada masyarakat banyak. Agar kelak ilmu yang kita miliki membuahkan hasil dan mewujud pada perubahan dan perbaikan peradaban yang hari ini kian massif dan tidak beradab. Banyak orang pintar tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa pada komunitasnya. Yang ada hanyalah kerusakan yang ditimbulkan akibat ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Kufur terhadap ilmu yang Allah berikan adalah tidak mengamalkannya di jalan Allah. Atau berbuat kerusakan bersandar pada ilmu yang dimilikinya. 
Karena sifat dan karakteristik manusia adalah angkuh dan menyombongkan diri. Kedua sifat tersebut dekat dengan kekufuran. Sampai-sampai Allah Swt memberi peringatan secara berulang-ulang.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?." [QS: arrahman: 13]
Betapa manusia adalah mahluk yang sering berbuat kekufuran. Walaupun sifat tidak pernah puas selalu menghantui dan terus saja mengikuti kita kemanapun pergi, namun kita tak perlu khawatir dengan itu. Yang bisa kita lakukan ialah, menahan dan mengekang hawa nafsu kita dari kekufuran dan perbuatan yang mendekatkan pada kekufuran itu sendiri.
Inilah hakikat dan esensi syukur. Refleksi syukur itu hendaknya mampu mengeliminasi sinyal-sinyal kekufuran yang terus menerus tumbuh dan berpotensi untuk mendominasi dalam diri setiap insan. Karena syukur dan kekufuran ibarat minyak dan air. Keduanya sangat tidak mungkin disatukan. Jurang pembatas terlampau jelas untuk membedakan keduanya.
Refleksi syukur pun bisa ditafsirkan dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Dan hal ini memang sangat dianjurkan. Tetapi merasa paling baik, paling taat kepada Allah, paling benar, paling pandai mensyukuri nikmat Allah adalah sikap yang tidak dibenarkan dalam Islam. Karena itu adalah perangkat Iblis dalam menggoda dan menggiring anak keturunan
Mensyukuri karunia Ilahi dapat dilakukan dengan beragam cara. Tidak hanya mengucapkan Alhamdulillah saja. Rasa syukur itu mengejawantah. Syukur itu merealitas dalam kehidupan sosial dan pribadi kita.
Kita dapat mendeteksi sikap dan perilaku diri sendiri.

Defeated Mentality (Mental Pecundang)

Salah satu penyakit menonjol kaum Muslimin dewasa ini ialah terjangkiti Defeated Mentality (Mental Pecundang). Tidak sedikit saudara muslim kita yang malu menampilkan identitas ke-Islam-annya di tengah masyarakat. Ia sangat khawatir bila dirinya memperlihatkan segala sesuatu yang terkait dengan nilai-nilai Islam maka ia akan diejek, dipandang rendah, diasingkan, dikucilkan, ditolak bahkan dimusuhi. Inilah yang menyebabkan tidak sedikit pegawai kantoran yang membiarkan dirinya menunda bahkan meninggalkan sholat bila mendapati dirinya sedang “terjebak” di dalam suatu meeting panjang. Tidak sedikit muslimah yang ragu untuk berjilbab karena tidak siap menghadapi “komentar negatif” orang-orang di sekelilingnya. Dan banyak daftar contoh lainnya. Padahal menampilkan identitas Islam merupakan perintah Allah :
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."  Ali Imran [3] : 64
Keberpalingan orang lain dari agama Allah tidak berarti kitapun harus ikut-ikutan berpaling darinya. Berjalanlah di tengah masyarakat dengan identitas Islam yang jelas terlihat. Sebab menampilkan identitas Islam merupakan bukti seorang muslim siap beribadah kepada Rabbnya dalam situasi dan kondisi apapun. Di manapun dan di hadapan siapapun. Memperlihatkan perilaku dan akhlak Islam merupakan bukti seorang muslim meyakini bahwa sosok Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama bagi dirinya yang perlu ia contoh begaimanapun situasi dan kondisi yang melingkupi dirinya. Seorang muslim tidak dibenarkan membiarkan dirinya berperilaku laksana bunglon. Berubah warna menyesuaikan diri dengan warna di sekitar dirinya. Warna Islam harus menjadi warna seorang muslim betapapun ramainya aneka warna lainnya di sekitar dirinya. Muslim yang tidak konsisten menampilkan identitas Islamnya merupakan orang yang memiliki mentalitas pecundang. Ia telah kalah sebelum bertarung.
Apa sebenarnya yang menyebabkan banyak muslim dewasa ini ber-mental pecundang? Banyak sebabnya. Di antaranya ialah:
Tidak memiliki keyakinan yang mantap bahwa sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Allah. Dia ragu apakah benar jika dirinya tampil dengan identitas Islam ia bakal ditolong Allah? Sehingga akhirnya dia menawar dalam hal ini. Dia mulai mencari identitas lain yang dia sangka jika ia tampilkan –baik bersama dengan identitas Islam maupun tidak- maka manusia di sekitar akan memberikan apresiasi kepada dirinya. Ia akan dianggap sebagai orang yang lebih “mudah diterima”. Padahal jelas Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47] : 7)
Dia silau melihat kaum kafir yang Allah sedang berikan kesempatan memimpin dunia dewasa ini di zaman yang penuh fitnah (baca: ujian) bagi kaum yang beriman. Lalu dalam rangka supaya bisa segera menyaingi keberhasilan kaum kafir, maka diapun mengikuti jejak langkah, tabiat dan kebiasaan kaum kafir. Jika kaum kafir bisa meraih kemenangan tanpa menghiraukan keterlibatan agama dalam urusan kehidupan sosial, politik dan ekonomi, maka iapun menganggap bahwa hal itu juga bisa diraih oleh ummat Islam jika paham sekularisme turut dikembangkan di tengah kaum muslimin. Akhirnya ia beranggapan bahwa identitas berdasarkan kesamaan bangsa lebih dapat diandalkan daripada identitas berdasarkan kesamaan aqidah dan ketundukan kepada Allah, Rabb Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam raya. Paham nasionalisme yang merupakan ideologi produk manusia dipercaya dapat “lebih menjual” daripada ideologi dienullah (agama Allah) Al-Islam yang bersumber dari Allah. Alhasil keyakinan bahwa Allah merupakan sebab bersatunya hati manusia digantikan dengan man-made ideologies sebagai sebab persatuan dan kesatuan umat manusia. Padahal jelas Allah berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًامَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Dan (Allah) Dialah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal [8] : 63)
Dia mudah terjebak oleh paham-paham sesat modern yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara ada sebagian ummat Islam bahkan tokoh Islam yang justeru mendukung paham-paham tersebut. Dukungan yang diberikan kadang-kala dijabarkan dalam tulisan-tulisan yang berdalilkan ayat dan hadits pula. Di antaranya adalah seperti paham Pluralisme, Sekularisme, Humanisme serta Demokrasi. Memang harus diakui bahwa jika seorang muslim tidak memiliki ilmu yang cukup dan rajin membaca berbagai tulisan para ulama dan pemikir Islam yang kritis membedah kesesatan paham-paham tersebut, niscaya dia akan dengan mudah menelan berbagai pandangan yang mendukung dan menjustifikasi keabsahan paham-paham tadi. Sebab media yang pada umumnya sekuler lebih condong memuat pendapat yang sejalan dengannya.
Hanya sedikit sekali media Islam yang cukup cerdas membongkar bahayanya paham-paham tadi. Karena disamping kecerdasan juga diperlukan keberanian untuk menentang arus yang mengkampanyekannya. Itulah rahasianya Allah memerintahkan ummat Islam agar tidak mudah ikut arus yang ramai.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِإِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (QS. Al-An’aam [6] : 116)
Dia tidak cukup sabar meniti jalan sulit dan mendaki sesuai sunnah (tradisi) cara berjuang Nabi Muhammad SAW untuk meraih janji kemenangan agama Allah di dunia. Dia mengira bahwa jadwal kemenangan ummat Islam mesti ditentukan oleh perhitungan akal dirinya sendiri. Padahal segala sesuatu memiliki dan mengikuti sunnatullah. Akhirnya demi segera tercapainya kemenangan ia rela berjalan dan berjuang tidak lagi mencontoh sunnah Nabi Muhammad SAW Mulailah dia memandang para mujahidin yang sejatinya berada di atas jalan Allah justeru sebagai kalangan yang bodoh, tidak progressif dan tidak realistis. Sedangkan para kolaborator (baca: para pengkhianat) justeru dipandangnya sebagai kalangan yang berpandangan luas, progressif dan realistis dalam berjuang. Mereka lupa bahwa kalah dan menang merupakan tabiat hidup di dunia. Tidak mungkin ummat Islam terus-menerus meraih kemenangan di dunia sebagaimana tidak mungkin kaum kafir pasti selalu mengalami kekalahan di dunia. Allah menggilir masa kejayaan dan kemenangan di antara ummat manusia. Ada masanya ummat Islam berjaya, ada masanya ummat Islam terpuruk. Ada masanya kaum kafir terpuruk, ada masanya mereka diizinkan Allah meraih kemenangan di dunia.
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُوَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُواوَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” Ali Imran :140
Yang pasti, hanya kaum beriman sejati sajalah yang selamanya akan berjaya dan bahagia di akhirat. Dan hanya kaum kafirlah —beserta kaum munafiq yang berkolaborasi dengan mereka— yang selamanya bakal merugi dan menderita kekalahan sejati di akhirat kelak nanti.
Begitu kita menyadari bahwa secara konteks zaman kita ditaqdirkan Allah lahir ke dunia di era dimana giliran kekalahan sedang menimpa ummat Islam dan giliran kejayaan sedang Allah taqdirkan berada di tangan kaum kuffar, maka kita segera sadar bahwa ini merupakan era badai fitnah (baca: badai ujian). Dengan legowo kita harus mengakui bahwa ummat Islam dewasa ini sedang babak belur dan kaum kafir sedang berjaya secara duniawi. Tapi itu bukan alasan untuk kemudian kita meniti kehidupan di dunia ini dengan defeated mentality (mental pecundang). Ini sama sekali bukan alasan ummat Islam untuk meninggalkan jalan hidup Islam dan malah mengadopsi jalan hidup kaum kuffar.
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3] : 139)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing,maka beruntunglah orang-orang yang terasing'." (HR. Muslim No. 208)